Authority
Control
Authority control adalah alat yang
digunakan pustakawan
dalam menentukan bentuk-bentuk tajuk, seperti
tajuk nama, badan korporasi, dan tajuk subjek. Authority control membuat keseragaman akses dalam records bibliografi, sehingga
identifikasi tajuk pengarang dan subjek menjadi jelas. Authority control digunakan untuk membantu pengguna menelusuri katalog atau indeks perpustakaan secara efektif dan menjaga keseragaman bentuk tajuk yang
digunakan pada katalog untuk mewakili subjek, nama orang atau badan korporasi, judul,
dan nama wilayah.
Sistem authority control sangat
penting dalam proses pengolahan bahan perpustakaan dan juga penelusuran
informasi. Authority control akan
menjadi akses bagi pustakawan dalam menentukan bentuk tajuk pada katalog, sehingga
terdapat konsistensi dalam penentuan titik akses informasi, sehingga memudahkan
pemustaka dalam menelusur informasi. Perpusnas RI, selama ini telah mempunyai
sistem authority control yang
datanya diambil dari pangkalan data bibliografis, Library of Congress Subject Headings, Sears List Subject Headings,
dan daftar tajuk yang diterbitkan oleh Perpusnas RI. Data-data tersebut
langsung diambil dan dimasukkan ke pangkalan data authority tanpa melalui proses validasi, sehingga masih banyak
terdapat kesalahan dan duplikasi data. Data yang kurang akurat itu pun
menyulitkan pustakawan dalam menentukan bentuk tajuk yang standar terhadap
bahan perpustakaan yang akan diolah. Sistem authority control yang ada juga belum terintegrasi dengan
pangkalan data OPAC, sehingga proses penelusuran informasi belum berjalan
secara maksimal. Berdasarkan hasil pengamatan selama ini, masih ditemukan
beberapa kesalahan pada sistem authority
control berjalan, sehingga perlu dikembangkan sistem authority control baru yang akan menyempurnakan
sistem yang lama.
1. Permasalahan yang muncul pada sistem authority control
a. Hasil
penelusuran tidak sesuai
b. Ruas-ruas
yang terdapat dalam tajuk belum terkoneksi, sehingga sulit mendeteksi apakah
setiap tajuk dalam ruas-ruas tersebut sudah dikeluarkan atau belum.
c. Penelusuran
masih kaku, tidak bisa dari kata kunci
d.
Tidak ada warning dalam penulisan tajuk
yang kurang tepat atau tajuk itu sudah dimasukkan atau belum, sehingga masih
banyak kesalahan atau duplikasi data.
Kesalahan-kesalahan
dalam penulisan tajuk biasanya terjadi karena kurang ketelitian pustakawan
ketika menuliskan bentuk tajuk dalam deskripsi bibliografis yang secara
otomatis langsung tersimpan pada pangkalan data authority
e. Semua
pustakawan dapat masuk ke pangkalan data authority, sehingga data authority
tidak terkontrol.
f.
Antara pangkalan data authority,
pangkalan data bibliografis, dan pangkalan data OPAC belum terintegrasi,
sehingga proses pengolahan bahan perpustakaan dan proses penelusuran informasi
belum berjalan secara maksimal.
2.
Cara mengatasi permasalahan pada authority control
Berdasarkan kendala yang ditemui
pada sistem authority control yang
ada saat ini maka dibutuhkan sistem baru untuk menyempurnakan sistem yang lama
agar masalah-masalah yang ada dapat diminimalisasi. Pengembangan sistem yang
baru tersebut memerlukan penambahan sistem sebagai berikut:
a.
Hasil penginputan tajuk pada pangkalan data
deskripsi bibliografis harus melalui tahap validasi, sehingga
kesalahan-kesalahan dalam penulisan tajuk tidak langsung masuk ke pangkalan
data authority.
b.
Manipulasi data pada pangkalan data authority hanya dapat dilakukan oleh
pustakawan yang mendapat hak akses, yaitu pustakawan yang bertugas sebagai
operator, sehingga keamanan data lebih terkontrol
c.
Memberikan warning pada penulisan bentuk tajuk yang salah atau yang sudah
ada, misalnya data tidak bisa disimpan, sehingga mengurangi kesalahan dan
duplikasi data.
d.
Menyediakan fasilitas penelusuran melalui kata
kunci
e.
Menyediakan tampilan yang mudah dimengerti oleh
pengguna
f.
Menyediakan rujukan agar pemustaka dapat
menemukan informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan akurat.
Perbandingan sistem yang lama dan yang baru di atas terlihat bahwa
dengan sistem yang baru, dari sisi kinerja dalam hal ini waktu relatif lebih
singkat karena penentuan tajuk langsung diambil dari pangkalan data authority,
sehingga pustakawan tidak perlu melakukannya secara manual dengan melihat
daftar tajuk tercetak. Informasi yang disajikan
dengan sistem baru lebih akurat
karena antarbasisdata sudah terintegrasi sehingga data yang muncul adalah data
yang sudah valid. Biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih rendah karena
kesalahan dalam pemasukan data dapat diminimalisasi. Hak akses ke pangkalan
data authority hanya diberikan kepada operator sehingga manipulasi data
lebih terkontrol. Penghematan waktu, biaya, dan tenaga yang diperoleh membuat
sistem yang baru ini lebih efisien dibandingkan dengan sistem yang lama.
Informasi yang disajikan juga lebih akurat dan dapat dimanfaatkan oleh siapa
saja, bukan hanya untuk pustakawan tetapi juga para pemustaka yang melakukan
penelusuran informasi.
Authority list
Authority list merupakan dokumen yaitu daftar nama orang atau badan yang
ditetapkan sebagai tajuk perpustakaan. Suatu perpustakaan harus mempunyai
authority list untuk menjaga keseragaman dan ketaatasasan dalam tajuk yang
digunakan dalam katalog.
Fungsi dari authority list adalah menyeragamkan dan mengendalikan
tajuk-tajuk nama dan subyek, serta acuan-acuan yang digunakan di katalog
perpustakaan. Dalam daftar authority
list, dalam satu jajaran disusun tajuk pengarang, badan korporasi dan nama
geografi yang digunakan sebagai tajuk entri utama, entri tambahan, dan entri
subyek. Jika terdapat permasalahan karena pengarang menggunakan lebih dari satu
nama, atau satu nama dengan berbagai variasi maka pengkatalogan perlu memelusur
lebih banyak informasi seperti Katalog Induk Nasional. Sumber-sumber yang
dijadikan dasar dalam memilih tajuk serta acuan-acuan yang dibuat dicatat pada
authority lis
Authority Control dan Authority List pada
Pengkatalogan Deskriptif
Authority control pada tahap pengkatalogan deskriptif mencakup
pengendalian tajuk nama orang dan badan korporasi (corporate bodies). Jika
seorang pengarang menggunakan beberapa nama, satu bentuk nama harus ditetapkan
sebagai bentuk standar. Bentuk standar ini disebut tajuk seragam (uniform heading) bagi pengarang
tersebut, dan tajuk inilah yang digunakan disemua wakil dokumen. Sarana atau alat pengendalian tajuk nama
orang dan badan korporasi adalah authority list seperti dafter tajuk nama
pengarang, daftar tajuk nama badan korporasi.
Authority list dibuat oleh badan yang berotoritas seperti perpustakaan
nasional atau badan bibliografi nasional yang telah ditunjuk untuk itu, dan
authority list ini menjadi panduan yang dipakai oleh semua perpustakaan. Untuk
perpustakaan di Indonesia misalnya daftar
tajuk nama pengarang Indonesia (Authority file of Indonesian Names) yang
disusun oleh perpustakaan Nasional. Perpustakaan di Amerika menggunakan Library of Congress Authorities yang
lengkap dan up to date.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengkatalogan deskriptif
misalnya, ada pengarang yang menggunakan lebih dari satu nama, ada pengarang
yang kadang-kadang menggunakan bentuk lengkap dan kadang-kadang bentuk singkat
namanya, dan ada pengarang yang resmi ganti nama.
Apabila dalam proses pengkatalogan deskriptif hal-hal seperti ini tidak
diperhatikan, maka katalog yang tercipta tidak dapat berfungsi sebagai
semestinya. Karya seorang pengarang akan tersebar pada berbagai bentuk nama, sehingga
katalog tidak mampu menunjukkan dokumen hasil karya seorang pengarang yang
dimiliki perpustakaan.
Authority control dan authority list dalam pengindeksan subjek
Authority control atau pengawasan terhadap tajuk pada tahap pengindeksan
subjek dilakukan dengan kosakata terkendali (controlled vocabulary) atau bahasa indeks, seperti daftar-daftar
tajuk subjek seperti Daftar Tajuk Subjek
untuk Perpustakaan Indonesia, Daftar Tajuk Subjek Universitas Indonesia, maupun bagan klasifikasi supaya wakil
dokumen dengan subjek yang sama terkumpul di satu tempat, maka tiap konsep
diwakili oleh satu istilah saja.
Pemakaian yang berupa menelusur lewat
sinonim dipandu dari istilah yang buka tajuk ke istilah yang ditetapkan sebagai
tajuk subjek. Dalam Daftar Tajuk Subjek
untuk Perpustakaan Indonesia misalnya dapat ditemukan entri sebagai
berikut:
BULUTANGKIS
x Badminton
xx OLAHRAGA
Ini berarti bahwa BULUTANGKIS
ditetapkan sebagai tajuk subjek. Untuk memandu pemakaian yang mencari pada
istilah “badminton” (yang bukan tajuk) harus dibuatkan rujukan:
Badminton lihat BULUTANGKIS
Untuk menunjukkan hubungan antar
subjek dalam satu katalog maka ada instruksi (tanda xx) untuk membuat rujukan
OLAHRAGA lihat juga BULUTANGKIS apabila dalam koleksi perpustakaan tersebut ada
bahan mengenai kedua subjek tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar